Skip to content

Buku

Pada Hari Buku Nasional :

Rak buku lama yang baru saja dipakai kembali 2 bulan yang lalu ternyata ada rayapnya. Beberapa novel, buku kuliah, buku tabungan, pensil warna, dan entah apa lagi, habis tinggal remah-remahnya..

Semua berawal ketika membaca buku referensi untuk skripsi. Saya mencari-cari sticky notes diantara tumpukan buku di rak lama itu. Ada 5 warna berbeda di sticky notes yang belum lama saya beli itu. Namun, 2 diantaranya sudah tinggal tersisa satu lembar dengan sedikit ada jejak rayap yang menempel. Awalnya saya pikir jejak rayap yang menempel itu hanya sedikit, dan saya pikir mungkin 2 sticky notes ini lepas aja atau memang sudah sebanyak itu saya pakai (meski saya nggak yakin). Beberapa saat kemudian saya jadi curiga, jangan-jangan sticky notes itu memang dimakan rayap. Lalu saya melihat tumpukan buku yang berada paling bawah benar sudah terkena rayap. Saya minta bantuan ibu untuk melihat apakah buku-buku lain juga terkena. Ketika ibu menggeser rak buku itu, rasanya seperti patah hati.


Novel-novel lama saya habis dimakan rayap. Buku kuliah jaman semester awal sih nggak penting ya, semacam buku Bahasa Indonesia, Ilmu Alamiah Dasar dan sejenisnya. Tapi Novel Laskar Pelangi yang saya beli saat awal-awal saya kelas satu SMA, dengan segala perjuangannya, habis nggak tersisa. TFIOS non terjemahan, yang dibeli sebelum filmnya keluar dan versi terjemahannya keluar, tinggal setengah. Beberapa novel lain yang entah apa saja judulnya karena sudah nggak terlihat lagi bentuknya, habis nggak bersisa. Novel teenlit hadiah ulang tahun dari teman-teman SMA, semoga masih ada. Saya belum cek ulang buku apa saja yang selamat. Sekarang saya tidur dikelilingi tumpukan buku-buku yang nggak beraturan. Seperti tidur di gudang. Beberapa buku yang terkena rayap banget masih belum juga saya rapikan kembali. Sekarang masih berusaha mengatasi keberadaan rayapnya dulu dengan mengurangi kelembapan kamar.

Persoalannya bukan tentang berapa banyak uang yang sudah dihabiskan untuk membeli benda-benda itu. Tapi ada nilai sejarah yang dimiliki benda-benda itu, yang nggak bisa terganti meski suatu hari nanti di masa depan saya bisa membelinya lagi.

Tapi,  di hari buku nasional :  akhirnya saya bisa membaca novel “Pulang”- Leila S.Chudori.

Mengetahui buku ini pertama kali ketika ada di dalam list LitBox yang saya subscribe (LitBox adalah sistem berlangganan buku dari Ika Natassa, yang tiap edisinya berisi 2-3 buku yang kita nggak tahu judulnya apa saja. Tiap akan ada edisi baru, kita akan diemail sekedar hints tentang si buku-buku itu. Kalau tertarik ya beli gitu aja. Tanpa tahu buku apa yang bakalan kita dapat. Meski seringkali sih saya kepo ke orang-orang yang suka nebak-nebak di twitter juga). Sayang, waktu itu saya nggak beli LitBox edisi itu. Sampai beberapa kali setiap saya ke Gramedia, saya  sedikit membaca beberapa halaman novel ini dan maju mundur antara beli atau nggak. Ada yang menarik, tapi ini bukan novel genre metropop yang bakalan 3 jam kelar, jadi saya takut saya nggak akan menyelesaikannya.

Nah, beberapa hari sebelumnya saya mencoba iJakarta. Baru satu buku yang berhasil saya pinjam, genre fiksi romance biasa berjudul “New York After The Rain” kalau nggak salah ingat. Penulisnya Vira Safitri (saya nggak pernah baca novel dia sebelumnya). Lalu, muncul novel “Pulang” ini di rekomendasi saya. Pas dilihat, nggak perlu antri pula. Langsunglah saya pinjam dan saya baca. Saya baca tiap kali sebelum tidur. Jika hanya novel-novel metropo paling 3-4 jam kelar. Jadi, novel metropop biasanya selesai dalam semalam. Bahkan setelah itu saya masih sempat Youtube-an dan tidur jam 3 pagi. Novel “Pulang” ini baru bisa saya selesaikan setelah 2 hari. Saya jadi rindu novel-novel yang “sastra” gini karena terlalu sering baca seri metropop (meski ada review di Goodreads yang bilang ini novel kurang “sastra” kalau disebut novel sastra). Tapi memang ya, sensasi baca buku digital itu beda dengan baca buku cetak. Meski akhirnya sudah tahu novel itu bercerita tentang apa, saya pasti akan membeli buku fisiknya suatu hari nanti. Semoga tidak dimakan rayap lagi.

Share

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *