Skip to content

SOLO : Pasar Klewer dan Triwindu

Menuju ke destinasi selanjutnya:  Pasar Klewer. Pasar ini terletak tidak begitu jauh dari area Keraton. Kami msih naik becak yang tadi. Becak yang rencananya hanya mengantar kami sampai keraton, dan masih nunggu kami pas masuk di dalam keraton tadi.

“ Pak bisa antar kami ke Klewer, berapa?“

“ oh ya, ya nanti aja “

……lah

Yasudah kami langsung naik, dan melanjutkan perjalanan ke pasar klewer tanpa tau harus bayar berapa. Oh ya, nggak afdol kalau ke keraton Solo belum foto-foto di depan bangunan biru itu. Kami pun meminta bapaknya berhenti sejenak di depan bagian bangunan biru itu buat foto-foto. Namanya turis Indonesia.

Perjalanan lanjut hingga kami tiba di Pasar Klewer. Seperti apakah pasar klewer ? Ya susanana jalanan dipinggirnya banyak PKL sih hampir sama di Johar gitu. Pas masuk ke dalamnya, ke kios-kios pakaian itu, Astaga…… susah banget buat jalan. Nah karena kami ada rencana mau ke PGS (Pusat Grosir Solo) besok, jadi di pasar Klewer ini kami memang nggak beli apapun. Selain karena memang otak kami nggak bisa jalan buat mikir dan nggak tertarik sama jualan di Pasar Klewer yang sumpek banget itu. Plus males nawar juga.


Setelah kami tau ternyata besoknya di PGS pun juga masih harus nawar-nawar ..

Sial.

Nggak tahan keliling pasar Klewer yang sumpek banget, kami segera keluar dan tanya –tanya orang gimana caranya ke Pasar Triwindu. Nah, pasar Triwindu ini adalah pasar barang antik gitu.
Lagi-lagi kami disarankan orang buat naik becak saja buat ke Triwindu ini ….

Pas kami akhirnya nemu becak satu-satunya, diujung jalan, kami pun kena harga 15ribu. Sesampainya di Triwindu, lah kok ternyata dekat..

Ini becak termahal yang kita naiki selama di Solo karena jaraknya. Dan Bapak tukang becak terbaik dan termurah adalah yang di Keraton tadi. Jadi nyesel memutuskan untuk menyudahi perjalan dengan bapak becak itu sesampainya di Klewer tadi. Padahal kami di Klewerpun juga bentar.

Becak di keraton tadi akhirnya kami bayar 15ribu. Dan itu dari alun-alun hingga keraton, nunggu kami di keraton, nunggu kami foto-foto di keraton biru, hingga perjalanan ke Pasar Klewernya. Dan itu hitungannya murah banget dibanding becak-becak lain yang kami naiki kemudian.

Pasar Triwindu ini tutupnya sore, kami sampai disana sekitar jam 3-an lebih, dan itu entah memang pasarnya mau tutup atau memang pasarnya sepi gitu entahlah.

Barang antik – entah beneran antik atau tidak
Berbagai dagangan barang antik, entah antik beneran atau kerajinan-kerajinan tradisional gitu, dijual disini.
Setelah puas berkeliling dan beli foto-fotoin barang antik, kami pun duduk-duduk cantik di tempat duduk di depan Pasar Triwindu itu. Nah di sepanjang trotoar Pasar Triwindu itu memang jalanannya asyik gitu. Banyak patung-patung. Disitu ada yang jualan es tungtung seharga *lupa*. Dora yang beli. Uniknya adalah jualan es tung-tung disini pakai gelas loh… gelas cantik gitu… bukan gelas kertas dan sendok kayu. Tapi gelas kaca dan sendok beneran. Kamu jajan ya ditungguin gitu. Keren.
Trotoar dan patung – Sayang banyak coretan

Mulai agak sore kami memutuskan untuk pulang ke hotel. Lagi-lagi cek google maps dulu. Ternyata jarak Triwindu dan hotel kami nggak gitu-gitu jauh. Ya lumayan sih kalau jalan kaki…

Share

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *