Skip to content

The Greatest Showman: Film Biopik Menarik Tapi Banyak Kritik  

The Greatest Showman merupakan film biopik musikal tentang Phineas Taylor Barnum (P.T. Barnum), pelopor bisnis pertunjukan dari Amerika. Film ini tayang di Indonesia sejak akhir tahun lalu dan masih tayang hingga saat ini. Terinspirasi dari ambisi dan imajinasi P.T. Barnum, The Greatest Showman bercerita tentang sosok visioner dari bukan siapa-siapa, berhasil menciptakan pertunjukan sirkus  yang menjadi sensasional di penjuru dunia. Dibintangi oleh Hugh Jackman (P.T. Barnum), Michelle Williams (Charity Hallet Barnum), Rebecca Ferguson (Jenny Lind), Zendaya (Anne Wheeler) dan Zac Efron (Philip Carlyle) film ini sangat menghibur namun banyak menerima kritik karena terlalu berbeda dari kisah nyata yang menginspirasinya.



foxmovies.com

Pasca liburan tahun baru, seorang teman mengajak saya nonton. Ada beberapa film yang menarik mulai dari lokal hingga impor. Si teman ini sempat ngajak nonton Ayat Ayat Cinta 2. Sorry, but no thanks. Pilihan lainnya adalah Jumanji atau Pitch Perfect 3. Awalnya saya ingin nonton Pitch Perfect 3 karena sudah nonton film-film sebelumnya. Saya ingin tahu akhir dari trilogi grup acapella Barden Bellas gimana. Akhirnya, pilihan justru  jatuh pada The Greatest Showman tanpa tahu ceritanya seperti apa, bahkan dapat tempat duduk pun di baris kedua dari depan.

Film Ringan Bikin Bahagia

Saya nggak bisa berhenti senyum sejak Hugh Jackman menyanyikan lagu pertama; The Greatest Show. Senyum karena mesmerized. It was so grand and beautiful. Terlepas dari cerita filmnya sendiri yang memang ringan dan konfliknya nggak bikin tegang atau sedih luar biasa (setidaknya bagi saya), ternyata film ini berhasil bikin senyum bertahan sampai keluar bioskop.

Barnum-The Greatest Show

Salah satu kritik terhadap film ini adalah bahwa film ini terlalu “manis”. Namun, menurut saya justru disitu fun-nya. Bagi mereka yang butuh hiburan ringan, film ini cocok sekali. Di tengah hidup yang sedang stagnan dan bikin stres, lalu nonton film yang bikin senyum hampir dua jam dan keluar studio hati ringan, rasanya seperti sedikit minum air di tengah gurun; menyegarkan.

Saya lupa kapan terakhir kali keluar bioskop dengan hati yang ringan dan gembira dan The Greatest Showman berhasil memberikan sensasi itu. The Greatest Showman is the kind of feel-good movie you need for your stressful days.

The Musics are Great

Tahun 2016, kita “mabuk” dengan original soundtrack La La Land yang keren-keren itu.  Nah, lagu-lagu di The Greatest Showman juga dikerjakan oleh orang yang sama yang mengerjakan La La Land yaitu Benj Pasek dan Justin Paul. Awalnya saya merasa musiknya nggak cocok dengan setting cerita karena terlalu pop. Namun, lama-lama justru saya menikmati dan saya nulis ini sambil blasting on my speaker listening to the songs all over again.

Ternyata, pemilihan lagu-lagu yang lebih pop (daripada disesuaikan dengan setting film di tahun 1800-an) bertujuan untuk merepresentasikan sosok P.T.Barnum itu sendiri yang visioner. Begitu kata si penulis lagu yang saya kutip dari sini. Meskipun lagu berjudul “This is Me” adalah lagu utama yang menjadi anthem kisah film ini; tentang menjadi diri sendiri, jika harus memilih saya justru lebih suka dengan “A Million Dreams”, “Never Enough” dan “Tightrope”.

Salah satu scene favorit yang bikin tertegun kagum; Jenny Lind menyanyikan lagu Never Enough

Meskipun lagunya bagus dan enak didengar, tapi menurut saya masih ada minusnya. Lagu-lagunya terdengar terlalu mirip sepanjang film. Hal ini saya sampaikan ke teman saya ketika kami ngobrol betapa kami ingin langsung cari lagunya di Spotify. Namun ternyata nggak cuma saya yang berpikiran seperti itu. Beberapa kritik juga menyebutkan tentang hal ini. Tapi musiknya sih tetap keren menurut saya. Selain itu, karena saya lagi semangat-semangatnya belajar gitar, sepanjang film lagu-lagunya bikin saya berharap semoga chord-nya nggak susah-susah amat untuk dipelajari hahaha.

Film Liburan yang Akan Ditonton Berulang Kali

Saya suka nonton berbagai macam genre film. Saya tidak membatasi diri pada film-film tertentu. Kadang saya ingin nonton film yang misterius dan menegangkan atau film dengan berbagai twist yang bikin otak muter-muter. Namun, seringkali kita ada di masa pengen nonton film yang ringan dan menyenangkan saja gitu. Nah, jika kondisi terakhir yang sedang dirasa, biasanya larinya ke film-film romantic comedy yang isinya cuma klise atau film-film holiday. Film-film yang kita nggak butuh usaha keras buat nonton. The Greatest Showman masuk kategori itu. Saya tahu The Greatest Showman akan masuk ke daftar film yang akan saya tonton berulang kali ketika sudah keluar di aplikasi video on demand

Film vs Kisah Nyata

Tulisan ini awalnya hanya berakhir pada  poin diatas. Namun, dalam perjalanan menulis postingan blog ini, saya membaca beberapa hal tentang P.T. Barnum. Tidak seperti bagaimana kisah P.T.Barnum digambarkan dalam film ini, sosok P.T. Barnum sesungguhnya justru lebih cocok jadi villain,  jika dilihat dari sisi bagaimana ia membangun show business-nya dari hoax hingga berbagai eksploitasi yang dilakukan Barnum kepada hewan dan manusia yang ia jadikan obyek pertunjukan.  Berbeda dari film yang bikin senyum hampir 2 jam, setelah saya baca sedikit kisah-kisah P.T. Barnum, I felt more disgusted than inspired.

Barnum with The Freaks in the movie

Jika ingin tahu kisah sebenarnya bagaimana sosok seorang P.T. Barnum sebagai pelopor show business, nampaknya kita perlu berdiskusi lebih lanjut, baca lebih banyak, dan jelas tentu nggak cukup nonton film ini. Si Hugh Jackman saja membaca puluhan buku untuk membuat film ini. Meskipun begitu, terlepas dari kritik terhadap film The Greatest Showman yang dinilai salah dalam menggambarkan sosok P.T. Barnum, bahkan ada petisi terhadap Golden Globes untuk tidak memberikan satu award pun untuk film ini, The Greatest Showman sebagai sebuah tontonan jelas sangat menghibur.

Saya lupa ini kalimat siapa; tujuan utama film bukan buat kamu nambah pengetahuan. Film itu hiburan, kalau mau cari ilmu ya di sekolah atau baca dari sumber yang benar.  Saya sih setuju. Selama sebuah film berhasil menghibur, saya rasa sudah cukup. Meskipun nggak cocok bagi mereka pecinta film biopik yang penuh ilmu dan sejarah, The Greatest Showman sungguh tontonan yang menyenangkan. Keluar bioskop perasaan ringan, bahagia dan rasanya masih kurang durasinya ingin nonton lagi.



Share

8 Comments

  1. Penasaran deh dengan filmnya, masih diputar ngga yaa..

  2. Jadi asli sama filmnya bertolak belakang lumayan banyak ya. Tp trailernya memang menggoda

    • Iya. Kisah asli si Barnum sendiri lebih banyak kontroversi.

  3. Wah jd penasaran sama filmnya, lg butuh hiburan nih..:)

    • Cocok banget ini mbak untuk hiburan. Bikin bahagia filmnya, asal nggak tahu kisah asli si Barnum

  4. Wah banyak yang terkesan rupanya sama film ini, jadi tambah penasaran penasaran pengen nonton hihi

    • Segera ke bioskop sebelum turun filmnya. Kayaknya sampai sekarang masih ada di beberapa bioskop doang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *